Manusia Sebagai Pencipta SASTRA


Geliat sastra lahir dari pribadi kreatif. Ia mungkin saja menjadi sekadar gerak-riak. Sangat boleh jadi pula menjelma gelombang ombak yang memukau. Segalanya bergantung pada kegelisahan kreatif seorang individu sastrawan. Maka, kreativitas bagi sastrawan sesungguhnya merupakan ruh yang memungkinkannya melakukan tindak mencipta, berkarya, dan membuat perubahan. “Kreativitas harus menjadi tanda perubahan mentalitas yang sangat berarti dalam diri makhluk manusia,” begitulah Nietzsche menekankan pentingnya kreativitas bagi manusia.1 Itulah sebabnya, Nietzsche beranggapan, bahwa “Para pencipta adalah kaum yang lebih tinggi.”2 Mengingat kesusastraan –dan kesenian umumnya—tidak dapat terlepas dari soal kreativitas ini, jadilah ia serta-merta menyatu dengan proses kreatif penciptaan. Tanpa itu, ia akan menjadi tukang, pembebek, atau masuk dalam barisan para epigon; kelompok penjiplak yang malas memanfaatkan otaknya.

Penciptaan karya sastra adalah urusan individu. Kemandirian seorang sastrawan adalah modal utama. Dengan begitu, independensi mutlak menjadi dasar sosok pribadinya. Hanya dengan itu, ia dapat menggenggam gelombang yang kapan saja dapat dipancarkan ke segala arah atau cukup untuk dirinya sendiri. Maka, celakalah seorang sastrawan yang begitu amat bergantung pada pihak lain. Ketergantungan akan membawa seorang sastrawan pada musibah besar keterkungkungan kreatif. Ia terbelenggu oleh ketakbebasan. Itulah penjara pikiran yang sangat berbahaya bagi kebebasan berkreasi. Bukankah kebebasan merupakan fitrah manusia yang akan menjadikannya sebagai manusia yang bermartabat. Dalam bahasa eksistensialisme, “Realitas manusia adalah bebas, pada dasarnya dan sepenuhnya bebas!” 3

Komunitas sastra adalah sekelompok manusia –yang mestinya—independen. Mereka adalah sekumpulan pribadi yang sering kali dipersatukan oleh kegelisahan yang sama mengenai persoalan kesusastraan persekitarannya. Tidak jarang pula mereka mempunyai pandangan dan harapan tertentu dalam menyikapi masa depan kesusastraan bangsanya. Mereka berkumpul dan berinteraksi dengan kesadaran adanya kesamaan kegelisahan, harapan, dan pandangan. Mereka niscaya sangat menyadari pentingnya mengusung kebebasan berkreasi. Jika di dalamnya ada simpang-siur gagasan, perbalahan pendapat, pertentangan ideologi atau perselingkuhan kreatif, tentu saja semuanya sah. Itulah salah satu konsekuensi diberlakukannya kebebasan berpendapat dan kebebasan berkreasi. Oleh karena itu, biarkanlah perbedaan itu tetap mekar. Suburkan pula perbalahan dalam kerangka olah pikir. Silakan perbedaan itu menjadi bebuahan karya yang kaya gagasan, memancarkan dan menyemarakkan pergulatan pemikiran, melimpahkan model yang beraneka ragam dan menjelmakan rangkaian peristiwa kemanusiaan yang bermartabat, luhur dan berbudaya.

***

Dalam sejarahnya, telah banyak berbagai komunitas yang melahirkan tokoh. Lahirnya sejumlah tokoh itu tidak pula berarti bahwa individu tokoh yang bersangkutan sangat bergantung pada keberadaan komunitas. Komunitas sekadar wadah. Ia tidak melahirkan kreativitas, karena kreativitas datangnya dari individu-individu itu. Bahwa dari sebuah komunitas muncul seorang tokoh, duduk perkaranya sangat mungkin lantaran dalam komunitas itu, bermukim pribadi lain yang berkualitas. Boleh jadi juga di sana berkecamuk perbalahan pemikiran. Atau, mungkin pula dalam komunitas itu telah tercipta kondisi yang memungkinkan setiap pribadi bebas berpendapat, bebas menyampaikan gagasan, dan bebas bertengkar argumen.

Kenanglah sebuah komunitas di Riau yang bernama Rusydiah Kelab (1895); sebuah kelompok diskusi yang syarat keanggotaannya ditentukan oleh minimal telah menghasilkan sebuah karya. Tanpa karya, seseorang tak berhak menjadi anggota Rusydiah Kelab. Oleh karena itu, karya-karya anggotanya itulah yang mempertemukan komunitas ini dalam sebuah diskusi, dalam lalu lintas pemikiran. Penyair Gurindam Dua Belas—Raja Ali Haji, Perintis Novel Modern dan jurnalis Melayu—Syed Syeikh Al-Hadi, dan Pujangga Sunda yang awal—Hasan Mustapa, tercatat pernah menjadi anggota komunitas ini.4

Kolompok perkawanan Kwee Tek Hoay, konon, telah berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan para penulis peranakan Tionghoa.5 Dari sana tumbuh semangat untuk terus berkarya dan menciptakan karya yang lebih baik lagi. Bahkan, menurut Kwee Tek Hoay, jauh sebelumnya, di Bogor pernah pula terbentuk komunitas para nyonya Tionghoa yang biasa mendendangkan pantun dalam sebuah pesta keluarga Tionghoa.6

Dalam kesusastraan Sunda, pembentukan komunitas model itu, juga bukanlah hal yang baru. Pada tahun tahun 1930-an ketika majalah Parahiangan begitu berpengaruh, lewat prakarsa M.A. Salmun, dibentuklah komunitas sastrawan Sunda yang benama “Angkatan Parahiangan.”7 Pada awal tahun 1958, Rukasah S.W., juga melakukan hal yang sama dengan membentuk komunitas peneliti sastra Sunda, bernama Badan Pangulik Budaya Kiwari dengan Achdiat Karta Mihardja sebagai Ketuanya. Tercatat sejumlah anggotanya, antara lain, Ajip Rosidi, Ayatrohaedi, Dodong Jiwapraja, Ramadhan KH, Toto S. Bachtiar, Utuy Tatang Sontani.8

***

Begitulah, sebuah komunitas terbentuk seringkali dipicu oleh adanya kesadaran yang sama dalam memandang problem yang melatarbelakanginya dan harapan yang melatardepaninya. Terbentuknya komunitas itu, boleh jadi juga didasari oleh hasrat besar memancarkan kreativitas, dan bukan sekadar membentuk kumpulan orang yang segagasan, sekegelisahan dan sepengharapan. Di sana ada sesuatu yang hendak disumbangkan, ada keinginan untuk memberi kontribusi bagi kemajuan, ada desakan kuat untuk melakukan perubahan. Jadi, ada peristiwa kultural di belakangnya dan di depannya, terbentang harapan-harapan perubahan. Itulah hakikat dan peran sebuah komunitas.

Cermatilah langkah yang digerakkan Gelanggang Seniman Merdeka, 19 November 1946. Semangat untuk menguak (: menolak) Takdir (: Pujangga Baru) dan menawarkan perubahan, dimanifestasikan melalui “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Mereka berhasil mengusung sebuah nama. Atas nama itu pula mereka melakukan gerakan. Jadilah ia sebuah angkatan yang bernama “Angkatan 45”. Dalam konteks kultural, kembali, nama itu bukan sekadar label. Ia menjadi identitas, kepribadian, dan sekaligus gerakan kultural.

Di negara tetangga kita, Malaysia, sekelompok sastrawan yang waktu itu bermukim di Singapura, juga memproklamasikan komunitas yang bernama Sastrawan Asas 50. Komunitas inilah yang lalu melempangkan jalan bagi begitu banyak perubahan. Bahkan, lebih dari itu, slogan yang diusungnya, “Sastra untuk Masyarakat” telah menggiring sastra menjadi alat perjuangan. Sastrawan sungguh telah memainkan peran sosialnya secara signifikan. Sastrawan dan pers, bahu-membahu membangun sebuah kebudayaan bangsa.9

Di berbagai negara manapun, kelahiran dan peranan sebuah komunitas, sering kali menjadi pioner dan sekaligus sebagai agen perubahan. Tak sedikit pula yang pengaruhnya justru mengubah paradigma, pola berpikir, dan membuka berbagai kemungkinan yang lebih luas bagi kemajuan kebudayaan dan kemanusiaan. Periksa saja tindak yang dilakukan kelompok Opojaz dan Golongan Linguistik Moskow yang menyebut diri kaum Formalis Rusia tahun 1914. Lewat peranan kedua komunitas inilah konsep tentang sastra berikut metode kritiknya, yang tadinya sangat subjektif, dirombak—dibangun menjadi lebih objektif. Ketika pada tahun 1926, sebuah komunitas di Praha lewat tokoh pentingnya, Roman Jakobson, meneruskan dan merumuskan kembali gagasan kaum Formalis Rusia itu, sastra berikut perangkat analisisnya secara meyakinkan menjelma menjadi sebuah paradigma baru. Sastra pun menjadi sebuah artefak penuh makna dan kritik sastra mempunyai harga ilmiah. Pengaruhnya pun merambah disiplin ilmu lain dan bergentayangan ke belahan benua lain.10 Itulah peran penting sebuah komunitas!

Dalam dunia kesusastraan Jepang yang mempunyai sejarah panjang tentang peran komunitas sastra, eksperimentasi, pembelotan pada tradisi, dan gerakan pembaharuan, justru datang dari sastrawan yang punya atau yang tergabung dalam komunitas-komunitas. Di sana, komunitas memainkan peran sebagai bengkel penggodokan. Proses belajar dan pematangan terjadi dalam komunitas-komunitas, meski tentu saja karier kesastrawanannya sangat ditentukan oleh kreativitas sastrawan yang bersangkutan. Sebut saja, misalnya, Mori Ogai, Tayama Katai, Natsume Shoseki, Mishima Yukio atau Yasunari Kawabata. Mereka sengaja bergabung atau membentuk komunitas dengan kesadaran membangun sebuah genre, aliran, atau berbagai aktivitas olah pikir untuk mematangkan profesi dan sekaligus memantapkan peranan kesastrawanannya. Untuk mencapai tujuan itulah, mereka lalu menerbitkan jurnal, majalah, atau buku-buku antologi karya anggota komunitas itu.

***

Bagaimanakah dengan keberadaan dan peran komunitas-komunitas kita?

Penelitian yang dilakukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) tahun 1998 tentang keberadaan komunitas-komunitas sastra di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, menunjukkan betapa kesusastraan Indonesia sungguh tidak terpencil dari masyarakatnya, sebagaimana pernah begitu gencar didengungkan banyak pengamat sastra. Di keempat wilayah itu, telah terbentuk poros-poros sastra –dan budaya—yang niscaya telah ikut menyemarakkan konstelasi kesusastraan di Jakarta dan sekitarnya. Secara keseluruhan, menurut penelitian itu, tercatat di Jakarta ada 20 komunitas, Bogor lima komunitas, Tangerang 18 komunitas, dan Bekasi tiga komunitas.11 Bahwa ke-46 komunitas sastra itu sampai tahun 1998, masih menjalankan aktivitasnya, tentu saja itu merupakan kekayaan yang dapat melahirkan sastrawan penting Indonesia di masa depan.

Jika di keempat wilayah itu, tercatat ada 46 komunitas (sampai tahun 1998), maka dapat kita bayangkan, berapa banyak komunitas yang ada di Indonesia. Poros-poros gerakan kesusastraan Indonesia di Lampung, Pekanbaru, Medan, Aceh, Jambi, Palembang, Tanjung Pinang, Batam, Padang, dan entah kota mana lagi di Sumatera, kemudian di Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan pasti masih dapat kita deretkan lebih panjang lagi, merupakan wilayah pemasok sastrawan yang kiprahnya secara nasional, tidak dapat diragukan lagi. Persoalannya tinggal, bagaimana setiap komunitas itu dapat bersinergi dan membentangkan jaringan komunikasi antar-komunitas itu.

Bagaimana pula hubungan komunitas itu dengan dewan kesenian? Salah satu hal penting yang mestinya menjadi ciri utama sebuah komunitas adalah sifatnya yang independen. Kemandirian adalah hal yang penting dan mutlak menyatu dengan gerak langkah komunitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, ada atau tidak ada hubungan dengan dewan kesenian, tidaklah menjadi soal benar. Lalu apakah dengan demikian komunitas sastra dapat menggantikan peran dewan kesenian. Tentu saja tidak. Sebab, dewan kesenian dan komunitas sastra adalah dua lembaga yang berbeda. Keduanya dapat menjalankan fungsinya sendiri tanpa harus saling bergantung. Semakin banyak komunitas sastra bermunculan, semakin baik bagi kehidupan kesusastraan itu sendiri. Oleh karena itu, keberadaan setiap komunitas mesti dimaknai sebagai aset penting. Dari komunitas itulah lahir sejumlah sastrawan dengan kualitas yang bermacam-macam dan kegelisahan yang juga bermacam-macam. Maka, biarkanlah komunitas-komunitas itu lahir dan bertumbuh membawa semangatnya sendiri. Biarkan pula perbedaan itu tetap mekar sebagai kekayaan.

Jika saja segenap komunitas itu membentangkan jaringan antarkomunitas, dan masing-masing bersinergi mengusung kreativitas yang berkualitas, karya-karya agung yang menumental sangat mungkin akan lahir, justru dari komunitas-komunitas itu. Sebaliknya, jika ada komunitas yang tak lagi berkarya dan ia sekadar mengusung papan nama, maka patutlah kita berdoa sambil berharap: “Kembalilah ke jalan yang benar!”

Demikianlah! ***

Iklan

Thank you for visiting

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s